KETIKA MATI LAMPU
Aku dan keluargaku sedang berkumpul bersama di ruang menonton tv. Kami sedang menonton film horor dari DVD yang baru Ayahku belikan kemarin. Keluargaku memang penggemar horor story, termasuk aku. Malam itu kami menonton dengan asiknya dan disertai ketegangan-ketegangan pada setiap menitnya. Aku duduk di sofa sebelah kiri dengan Adikku, dan di sofa sebelah kanan ada Ayah dan Ibuku. Kami menonton dengan serius. Ditengah keseriusan itu tiba-tiba listrik padam.
Ayah berdecak kesal, "Yaelah.." ujarnya kecewa.
"Tenang, ini cuma mati listrik bergilir, sebentar lagi juga hidup," kata ibuku yang sudah mengetahui informasi itu dari para tetangga tadi siang.
Lalu kami hanya berdiam diri menunggu listrik menyala kembali. Tak lama kemudian, aku melihat Adikku berlari ke dapur. Mataku mengikuti langkahnya, walau dalam remang-remang tapi aku bisa melihat jelas tubuh kecil Vina disana. Ia berhenti di depan pintu dapur, memutar tubuhnya menghadap ke arahku. Tangan kanannya berayun seolah memanggilku, jadi aku berjalan mendekat, sepertinya dia haus dan takut untuk ke dapur sendirian.
Vina langsung membuka kulkas di ujung dapur saat kami sudah berada di dalam. "Gak ada daging," katanya dengan nada datar. Aku mengangguk, ternyata bukan haus alasannya kemari. Tapi kalimat yang diucapkan Vina membuatku teringat sesuatu.
"Sejak kapan kamu suka daging, dek?" Setahuku dia tak menyukai daging. Pikiran kanak-kanaknya melarang ia untuk memakan hewan atas dasar rasa kasihan. Selama ini Vina hanya memakan sayur-sayuran serta kacang-kacangan.
Vina menatapku dengan pandangan kosong. Lalu ia berjalan keluar dapur setelah menutup kulkas kembali, berdiri menungguku di depan pintu dapur seperti sebelumnya. Kami ada di depan pintu dapur saat listrik akhirnya menyala. Aku bernafas lega, namun setelahnya nafasku kembali tercekat mendapati Adik kecilku sudah berada di sofa.
"Kak, sini, ngapain disana?" teriaknya, membuat Ayah dan Ibuku ikut memandang ke tempatku berdiri. Aku terkekeh dan tersenyum geli. Ini pasti ulah Vina. Dalam situasi seperti ini bisa-bisanya dia menyalurkan bakat jahilnya itu.
"Kamu ini, kurang-kurangin jahilinnya." kataku menghampiri dan duduk kembali disampingnya.
"Hah? Siapa yang jahilin?."
"Gak ngaku lagi."
"Apa sih, kak? Aku beneran nggak ngerti. Dari tadi aku disini sama Ayah dan Ibu, kok." Ayah dan Ibu mengangguk serempak mendengar pembelaan itu. Otakku berputar cepat saat itu. Orang tuaku tidak pernah mendukung kenakalan Vina, apalagi ikut serta dalam rencana bodoh seperti itu.
Kejadian itu tidak mungkin tanpa sengaja, kan? atau.. ya?
Setelahnya, otakku seolah me-rewind kejadian beberapa menit lalu. Dan nafasku kembali tercekat untuk beberapa keganjilan yang tersaring saat itu juga. Selain daging, suara langkah kaki tanpa alas kaki yang seharunya terdengar ketika menapaki lantai dalam keheningan. Tapi hanya satu suara yang sampai ketelingaku, dan aku tahu jelas kalau itu langkahku.
Ayah berdecak kesal, "Yaelah.." ujarnya kecewa.
"Tenang, ini cuma mati listrik bergilir, sebentar lagi juga hidup," kata ibuku yang sudah mengetahui informasi itu dari para tetangga tadi siang.
Lalu kami hanya berdiam diri menunggu listrik menyala kembali. Tak lama kemudian, aku melihat Adikku berlari ke dapur. Mataku mengikuti langkahnya, walau dalam remang-remang tapi aku bisa melihat jelas tubuh kecil Vina disana. Ia berhenti di depan pintu dapur, memutar tubuhnya menghadap ke arahku. Tangan kanannya berayun seolah memanggilku, jadi aku berjalan mendekat, sepertinya dia haus dan takut untuk ke dapur sendirian.
Vina langsung membuka kulkas di ujung dapur saat kami sudah berada di dalam. "Gak ada daging," katanya dengan nada datar. Aku mengangguk, ternyata bukan haus alasannya kemari. Tapi kalimat yang diucapkan Vina membuatku teringat sesuatu.
"Sejak kapan kamu suka daging, dek?" Setahuku dia tak menyukai daging. Pikiran kanak-kanaknya melarang ia untuk memakan hewan atas dasar rasa kasihan. Selama ini Vina hanya memakan sayur-sayuran serta kacang-kacangan.
Vina menatapku dengan pandangan kosong. Lalu ia berjalan keluar dapur setelah menutup kulkas kembali, berdiri menungguku di depan pintu dapur seperti sebelumnya. Kami ada di depan pintu dapur saat listrik akhirnya menyala. Aku bernafas lega, namun setelahnya nafasku kembali tercekat mendapati Adik kecilku sudah berada di sofa.
"Kak, sini, ngapain disana?" teriaknya, membuat Ayah dan Ibuku ikut memandang ke tempatku berdiri. Aku terkekeh dan tersenyum geli. Ini pasti ulah Vina. Dalam situasi seperti ini bisa-bisanya dia menyalurkan bakat jahilnya itu.
"Kamu ini, kurang-kurangin jahilinnya." kataku menghampiri dan duduk kembali disampingnya.
"Hah? Siapa yang jahilin?."
"Gak ngaku lagi."
"Apa sih, kak? Aku beneran nggak ngerti. Dari tadi aku disini sama Ayah dan Ibu, kok." Ayah dan Ibu mengangguk serempak mendengar pembelaan itu. Otakku berputar cepat saat itu. Orang tuaku tidak pernah mendukung kenakalan Vina, apalagi ikut serta dalam rencana bodoh seperti itu.
Kejadian itu tidak mungkin tanpa sengaja, kan? atau.. ya?
Setelahnya, otakku seolah me-rewind kejadian beberapa menit lalu. Dan nafasku kembali tercekat untuk beberapa keganjilan yang tersaring saat itu juga. Selain daging, suara langkah kaki tanpa alas kaki yang seharunya terdengar ketika menapaki lantai dalam keheningan. Tapi hanya satu suara yang sampai ketelingaku, dan aku tahu jelas kalau itu langkahku.
Komentar
Posting Komentar