Aku, temanku.


    Pagi ini, angin terasa bertiup ke arah yang tak seharusnya. Meski begitu, langkah tetap ku jejakkan, hingga sampailah pada sebuah perpustakaan elit di sudut kampus. Perpustakaan ini di bangun elit sebagai penghargaan kepada generasi-generasi muda yang menyempatkan waktunya untuk membaca di tengah maraknya penggunaan gadget. Buku-buku yang tersedia disini juga sangat lengkap, kita akan dijanjikan kenyamanan tiada tara bila sudah singgah. Tapi masuk zona nyaman tak selalu memberikan kehangatan, seperti yang aku rasakan ketika pertama masuk ke dalam perpustakaan. Dinginnya AC menyentuh kulit pipiku. Ku tarik kerah jaket untuk memunculkan sedikit kehangatan dan melangkah lebih dalam. Novel ber-genre romace menjadi tujuanku beberapa waktu terakhir ini. Membaca kisah remaja yang seringkali di gambarkan dengan lebay, tapi jujur itu sangat menghibur. Aku bahkan sangat menyukainya.

Satu novel dengan sampul anak SMA menarik perhatianku. Ku sempatkan membaca bagian prolognya sebelum benar-benar memilihnya untuk menemani kesendirianku. Seperti biasa, perpustakaan selalu penuh oleh kaum yang haus membaca setiap paginya. Tentu itu sangat bagus, namun buruknya adalah, aku tak melihat ada tempat duduk yang kosong. Mataku terus berkeliling menjelajah setiap sofa, barangkali ada yang duduk seorang diri. Mataku berhenti menyapu saat suatu objek memusatkan mataku. Seorang perempuan melambaikan tangan dari sudut ruangan. Aku melihat kebelakang, memastikan benar aku yang di panggilnya. Setelah yakin, baru aku mulai menghampiri perempuan itu.

“Duduk disini saja, aku kesepian.” Begitu ucapnya setelah aku sampai. Melihat perempuan ini serasa bercermin pada diriku sendiri. Pun aku selalu kesepian, aku tak pandai mengolah kalimat, membuatku tak percaya diri untuk berkomunikasi dengan siapapun, takut salah ucapan.

Perempuan ini terlihat cantik dan ramah, dari caranya menyapaku pun memperlihat untuk ketidakmungkinan jika ia tak memiliki teman. “Aku tak pandai bersosialisasi, berakhirlah dengan sendirian. Terdengar miris, kan?” sepertinya aku salah dengar. “Kau sendiri, bagaimana?” tanyanya lagi.

Aku tertegun mendengar pertanyaan yang di lontarkan untukku. Dengan sedikit gugup yang entah kenapa, aku menjawab. “A-aku hanya ingin saja,” tentu saja jawaban yang bodoh. Sebenarnya nasib kita sama, hanya terlalu malu untuk mengakuinya.

“Oh, berarti kau masih beruntung karena memiliki teman.” Ujarnya yang aku yakini adalah kalimat terakhirnya. Setelahnya kami terbang bersama kisah pada masing-masing novel yang kami baca. Kebisuan menguasai suasana perpustakaan kala itu, semua terhenyak ke dalam euforia masing-masing.

Di rumah, kekosongan kembali menyambutku. Rumah ini terasa tak hidup, meski begitu aku tetap merasa tenang bila sudah berpijak pada teras rumah. Suara jangkrik bak sajian musik yang menemani malam-malamku. Lalu sepintas ingatan mengenai perempuan tadi pagi, membuatku merogoh saku. Kertas sobekan kecil bertuliskan 12 digit nomor. “Sepertinya aku akan membutuhkanmu. Tolong hubungi aku ya, siapatahu kita bisa menjadi teman baik,” ucapnya setelah memberikan kertas dan meninggalkan senyum tulusnya bersamaku.

Mungkin bukan ide yang buruk untuk menghubunginya.

Untuk hari-hari selanjutnya, aku tak pernah lagi merasa kesepian. Aku telah bertemu dengannya, dan rasanya hidupku semakin berwarna. Tiada lagi kekosongan di rumahku kala ia datang. Obrolan panjangnya juga sangat menghiburku, aku merasa sangat cocok berteman dengannya. Ia selalu mau menemaniku kemanapun, berbelanja, menonton bioskop, menonton konser atau sekedar minum teh. Selalu ada ketika aku membutuhkan teman. Menyadarkanku kebahagiaan yang berbeda saat tak lagi sendiri.

“Kau harus hadir ke acara pesta topeng itu.” katanya saat berusaha membujukku tadi siang. Tentu saja aku tak bisa menolak, karena dia selalu mau menurutiku, begitupun yang akan aku lakukan untuknya. Aku juga tak perlu takut, karena sekarang dia selalu bersamaku, menjadi temanku.

Pesta ini tak seburuk yang kukira, malah sangat menyenangkan. Aku bisa tertawa lepas di balik topeng. Menikmati dentuman musik yang memenuhi telinga.

“Hai, mau berdansa denganku?” Aku cukup terkejut melihat seorang laki-laki yang datang mengajakku berdansa. Temanku itu memberikan isyarat untuk menerima ajakannya, karena itulah aku menerimanya. Ini pertama kalinya berhadapan langsung dengan lawan jenis, aku merasa gugup. Tapi senyum temanku di kejauhan, memantapkan diriku untuk tak perlu ragu.

Aku tak tega harus berlama-lama meninggalkannya, karena itulah ku akhiri dansa itu. “Kasihan temanku menunggu, disana.” Ujarku sambil menunjuk dagu ke arah temanku. Laki-laki itu melihat ke arah pandangku dan menatapku bingung ketika aku meninggalkannya.

“Menyenangkan, bukan?” tanya perempuan itu ketika aku sudah berada di dekatnya. “Senang, tapi aku tak tega meninggalkanmu sendiri,” dia terlihat sedih mendengar perkataanku. Tapi itu benar yang aku rasakan. Dia yang selalu membuatku tak merasa sendiri, tak mungkin aku tinggalkan sendiri, kan?

Setelah pesta semalam, badanku terasa pegal-pegal. Ku hirup udara pagi hari yang menyejukan. Semakin ku hirup, semakin aku tersadar sesuatu. Angin mulai kembali bertiup ke arah seharusnya. Bersamaan dengan hal baik itu juga, hal buruk menimpaku. Entah kemana perempuan yang sudah aku klaim menjadi temanku itu. Nomornya bahkan tak bisa di hubungi. Biasanya kami selalu bertemu di perpustakaan, tapi jejaknya seolah menghilang. Tak ku dengar lagi kabarnya. Apakah aku berbuat salah? Atau ada hal yang tidak aku ketahui?

Kupandangi sobekan kertas nomornya. Melihatnya, berharap menemukan jawaban, dan benar. Di balik kertas, aku melihat sebuah tulisan rapi miliknya. “Tugasku untuk mengeluarkanmu dari zona kesendirian itu sudah selesai. Saat kau mulai tak bisa meninggalkan aku, saat itulah waktunya aku harus pergi.” Otakku dengan cepat menangkap maksudnya. Memang sudah sejak lama aku sadari, bahwa dirinya tak nyata. Dia hanya sebatas hayalan yang timbul dari pemikiran orang kesepian sepertiku. Tapi aku tak menghakimi kehadirannya. Walau sebatas hayalan, tapi ia mampu menembus kenyataan, dan menjadikan aku sosok yang baru. Terimakasih teman hayalanku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

See you tomorrow, Bara.

KETIKA MATI LAMPU