Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Ekspetasi

Gambar
Entah ini hal baik atau tidak, karena hari ini Lasya harus menemani Syana mengikuti perlombaan di sebuah SMA. Ia sudah ingin menolak, namun rengekan adiknya yang lebih mirip kokokan ayam itu membuatnya mengurungkan niat. Kalau tak segera diberi anggukan, bisa-bisa kamar bernuansa abu-abu yang rapi milik Lasya akan menyerupai kapal pecah dalam sekejap. Padahal, Lasya sudah menyusun daftar kegiatan untuk mengisi hari libur khusus sekolahnya ini—rapat guru tahunan. Mulai dari bermalas-malasan di kasur, menonton drama korea, membaca wattpad, ngemil cantik, mendengarkan musik sampai akhirnya tertidur lagi. Namun semuanya hanya angan-angan sekarang. Dan bodohnya, Lasya mengonfirmasi tanpa bertanya dimana perlombaan itu akan berlangsung. Sampai saat Syana menyebutkan nama sebuah sekolah yang langsung membuat Lasya membelalakan mata. “APA?? Enggak!   Kakak gak mau kesana,” Lasya spontan menolak. Syana berkemik, bibirnya mengikuti setiap kata yang Lasya ucapkan. Dan s...

Aku, temanku.

Gambar
    Pagi ini, angin terasa bertiup ke arah yang tak seharusnya. Meski begitu, langkah tetap ku jejakkan, hingga sampailah pada sebuah perpustakaan elit di sudut kampus. Perpustakaan ini di bangun elit sebagai penghargaan kepada generasi-generasi muda yang menyempatkan waktunya untuk membaca di tengah maraknya penggunaan gadget . Buku-buku yang tersedia disini juga sangat lengkap, kita akan dijanjikan kenyamanan tiada tara bila sudah singgah. Tapi masuk zona nyaman tak selalu memberikan kehangatan, seperti yang aku rasakan ketika pertama masuk ke dalam perpustakaan. Dinginnya AC menyentuh kulit pipiku. Ku tarik kerah jaket untuk memunculkan sedikit kehangatan dan melangkah lebih dalam. Novel ber- genre romace menjadi tujuanku beberapa waktu terakhir ini. Membaca kisah remaja yang seringkali di gambarkan dengan lebay , tapi jujur itu sangat menghibur. Aku bahkan sangat menyukainya. Satu novel dengan sampul anak SMA menarik perhatianku. Ku sempatkan membaca bagian prologn...

See you tomorrow, Bara.

Gambar
   “Bara, tunggu!” perintah seorang gadis yang tengah berlari tergopoh-gopoh ke arahnya, menghentikan langkah Bara. Gadis itu tak terlihat terengah setelah berlari, bahkan tak mengeluh kelelahan seperti gadis-gadis lain. Seina bersidekap menghadap Bara yang kini di depannya, wajahnya memancarkan aura kesal. “Kamu itu ya! Kita kan tetangga, tapi berangkat gak pernah mau bareng lagi sekarang.” Mendengar omelan Seina, Bara terkekeh. Ia diam menatap lekat setiap inci wajah Seina. Hal yang baru disadari Bara kalau Seina lebih terlihat manis dengan bibir manyun seperti saat ini. Senyum Bara mengembang yang malah membuat Seina balik terkekeh. Ekspresi Bara bukan seperti orang yang baru diomeli melainkan mendengar lawakan. “Lama gak ketemu, jadi rada-rada ya sekarang?” Seina menempelkan punggung tangannya pada dahi tinggi didepannya, guna mengetes apakah Bara sehat atau memang sakit, sakit jiwa. “Normal sih sininya,” ujarnya lagi dan mengalihkan pandangan dari Bara. ...