Ekspetasi
Entah ini hal baik atau tidak, karena hari
ini Lasya harus menemani Syana mengikuti perlombaan di sebuah SMA. Ia sudah
ingin menolak, namun rengekan adiknya yang lebih mirip kokokan ayam itu membuatnya mengurungkan niat. Kalau tak segera diberi anggukan, bisa-bisa kamar
bernuansa abu-abu yang rapi milik Lasya akan menyerupai kapal pecah dalam sekejap.
Padahal, Lasya sudah menyusun daftar kegiatan
untuk mengisi hari libur khusus sekolahnya ini—rapat guru tahunan. Mulai dari
bermalas-malasan di kasur, menonton drama korea, membaca wattpad, ngemil
cantik, mendengarkan musik sampai akhirnya tertidur lagi. Namun semuanya hanya
angan-angan sekarang.
Dan bodohnya, Lasya mengonfirmasi tanpa
bertanya dimana perlombaan itu akan berlangsung. Sampai saat Syana menyebutkan
nama sebuah sekolah yang langsung membuat Lasya membelalakan mata.
“APA?? Enggak! Kakak gak mau kesana,” Lasya spontan menolak.
Syana berkemik, bibirnya mengikuti setiap
kata yang Lasya ucapkan. Dan semakin menyebalkan karena sekarang gadis itu tertawa
dengan suara memekakan telinga, benar-benar merusak pagi indah Lasya. Sungguh,
kalau bukan adik, Lasya sangat ingin menguncinya di dalam lemari sekarang juga. Lasya bangkit dari kasur dengan masih
menggunakan piyama bergambar panda dengan penampilan acak-acakan. Ia membuka pintu, dan menutupnya kasar
sehingga tawa adiknya teredam di dalam kamarnya.
“AYAH?? IBU??” teriaknya ke penjuru
ruangan, berharap yang dipanggil segera muncul. Namun alih-alih muncul, malah
suara tawa yang sama terdengar dari arah belakang.
“Mereka udah berangkat sebelum kakak
bangun. Lagian .. bangun siang-siang.” tutur adiknya. Gadis itu langsung
melewati Lasya yang kini memasang wajah kesal. Ia duduk di meja makan seraya
mencomot roti selai coklat.
Apa? Coklat? Itu adalah hak milik Lasya. Adiknya itu benar-benar. Lasya mendengus ditempatnya. Level kekesalannya semakin berputar karena tingkah bocah tengil satu itu.
Apa? Coklat? Itu adalah hak milik Lasya. Adiknya itu benar-benar. Lasya mendengus ditempatnya. Level kekesalannya semakin berputar karena tingkah bocah tengil satu itu.
Lasya melihat ke sudut ruangan, lalu
berdecak lantaran jam dinding disana masih menunjukan pukul 6.15. Bahkan
terlalu pagi dari jam ia bangun biasanya. Tapi Syana juga tidak salah
mengatakan hari sudah siang, karena nampaknya ini terlalu siang untuk dirinya
dan kawan-kawannya berkokok—Syana dan ayam-ayam lainnya.
“Kenapa senyum-senyum sendiri? Stress, ya?” nampaknya Syana menyadari lengkukan bibir Lasya.
“Iya, stress punya adik ngeselin. Pokoknya
kakak gak mau nemenin kesana. Kamu kan udah gede, udah SMP. Terus ada sopir
buat apa?? Di pajang??”
Syana mendengus, “Yang lain juga
didampingin, kak. Kalau Ayah sama Ibu libur, juga aku gak akan mohon-mohon kaya
gini ke kakak.”
Oh, jadi dia terpaksa. “Ya udah,
kan ada Pak Ipo. Toh, kalian kalau ngomong juga lebih nyambung.” Pak Ipo adalah nama sopir keluarga mereka. Meski sudah paruh baya, tapi pemikirannya sejalan dengan Syana. Namun bukan berarti Syana harus terus-terusan dengan Pak Ipo, kan. Beliau juga tak dibayar untuk melakukan itu.
Syana memutar kedua bola matanya. “Terus punya kakak buat apa?? Di pajang??”
Syana mengikuti gaya bicara Lasya. “Lagian, masa nanti kalau menang
foto-fotonya sama Pak Ipo.” Syana mendengus, ia bersidekap dengan bibir
mengerucut. Sungguh ekspresi yang menggelikan untuk tampang judes sepertinya.
“Iya kalau menang ..” ucap Lasya sepelan
mungkin, hingga hanya dirinya yang bisa mendengar.
Detik berikutnya, mimik wajah Syana nampak
berubah. Lasya tak tahu ekspresi macam apa itu, tapi yang pasti, saat ini Lasya
merasakan hawa-hawa tak enak. Kalau sudah seperti ini, berarti sebentar lagi
adiknya itu akan mengatakan sesuatu yang tak ingin Lasya dengar.
Dan ..
“Nemenin adik aja nolaknya udah kaya bakal ketemu mantan.”
Pas. Kata-kata itu mengenai tepat pada puncak
kekesalan Lasya. Ini sudah tak bisa di tolerir. Dengan langkah cepat Lasya
menerjang adiknya, namun Syana lebih dulu menyadari pergerakannya,
sehingga kini ia sudah berlari ke sisi lain. Membuat keduanya berdiri
berseberangan di antara meja makan.
“Kamu
emang sengaja, kan?” Syana tak menghiraukan pertanyaan itu, ia terus cekikikan
di tempatnya, ditambah melihat penampilan khas bangun tidur dan wajah kesal
Lasya. Perpaduan badut pagi yang pas baginya. Cukup untuk hiburan.
Lasya geram. Ia berlari mengitari meja,
tapi lagi-lagi naluri Syana lebih cepat bergerak. Untuk hari ini, ia tak peduli
akan dicap melakukan KDHS (kekerasan dalam hubungan saudara), yang pasti
Lasya hanya ingin membogem adik tunggalnya itu saat ini juga.
Syana tahu kalau Agil, mantan Lasya,
bersekolah di tempat itu. Seharusnya ia bisa mengerti sebagai sesama perempuan,
tapi malah seperti ini. Entah Lasya masih harus mengakuinya sebagai adik atau
bukan setelah ini.
Padahal pada saat-saat tertentu, bocah itu
adalah teman curhat terbaiknya. Saat tak ada lagi yang bisa dipercaya di dunia
ini selain keluarga. Walau seringkali keluarganya tak utuh karena pekerjaan
kedua orang tuanya, dan menyisakan satu adik kecil yang bisa menjadi
menyenangkan sekaligus menyebalkan dalam sekali waktu itu.
Beberapa menit berlangsung sampai akhirnya
Syana mengangkat kedua tangan keatas layaknya sedang di todong pistol. Nafasnya
terengah, begitupun Lasya.
“Oke, kak. Oke. I know your ex- is there. Tapi ini bener-bener gak disengaja. Aku
udah minta supaya Ayah atau Ibu aja yang dampingin, dan ternyata mereka
bener-bener gak bisa ninggalin pekerjaan as
always. Jadi gak ada pilihan lain selain minta kakak.”
“Walaupun cuma anak SMP, aku juga ngerti, kok, apa yang kakak rasain atau pikirin. Tapi, mau sampai kapan kakak ngehindar? Sampai
tinkerbell jadi nyata dan beterbangan di kamar kakak? Jangan biarin diri kakak
kekurung ketakutan yang gak beralasan kaya gini. Kakak harus ambil langkah, minta maaf
atau sejenisnya yang mungkin bisa bikin kakak lebih tenang misalnya. Lakuin apapun yang bisa ngilangin phobia mantan tiba-tiba kakak ini”
Kata-kata Syana cukup membungkam Lasya. Ia
juga tak tau darimana anak kelas 2 SMP itu belajar berbicara seperti itu, tapi
intinya itu sangat berguna dan berhasil membuat Lasya mau menginjakan kaki di
sekolah asing ini . Ya, Lasya tak lagi bisa menolak, semua hal yang dikatakan Syana ada benarnya, ditambah tawaran coklat
berukuran big yang dijanjikan akan
diberikan sepulang nanti. Bagian itu paling tidak bisa ditolak dalam kamus Lasya.
Mata Lasya menyapu seluruh tempat. Sangat
ramai. Terlalu banyak orang disini, membuatnya pusing melihat berbagai macam dan warna pakaian tercampur
aduk. Lasya sendiri hanya mengenakan kaus abu-abu polos dengan celana jeans
dan sepatu kats abu-abu. Sebisa mungkin tak mencolok, walau kenyataannya masih
banyak mata yang terus melihat kearahnya, Bagaimana tidak? Ia satu-satunya yang paling
muda diantara para Ibu yang mendampingi anak-anaknya disini.
Lasya mendengus melihat Syana yang duduk disampingnya, tengah menertawai posisi dirinya. “Gara-gara kamu, nih.” ujar Lasya. Bisa saja mereka berpikir Lasya nikah muda, kan. Atau malah hamil diluar nikah? oh tidak.
Sementara yang dituduh memilih acuh. Syana
sibuk mengedarkan pandangannya pada lapangan luas di hadapan mereka, sampai akhirnya mata itu berbinar ke satu titik.
“Kak Agil.”
Bukan. Syana tidak sedang memberitahu,
melainkan memanggil seorang laki-laki yang berada ditengah lapang tersebut,
menarik perhatian beberapa orang untuk melihat ke tempat mereka.
“Kak Agil, sini ..” teriaknya lagi,
ditambah dengan mengayunkan tangan memanggil.
“Kamu ngapain, sih, dek?” Lasya sudah kelabakan
melihat laki-laki itu berhasil menemukan keberadaan mereka. Ia membawa rambut
terurainya ke depan untuk menutupi wajahnya.
Malu, takut, kesal bercampur jadi satu
saat laki-laki berkaus putih itu berjalan mendekat.
“Sumpah! Ini gak lucu, Na!”
Syana tak mendengarkan. Ia malah memasang
senyum pepsodent untuk menyambut
kedatangan Agil. Syana tergelak kecil melihat kakaknya yang kini menunduk,
pura-pura bermain hp disaat tangannya terlihat bergetar.
Lasya membuka akun instagramnya, men-scroll tanpa melihat apapun isinya. Ia
benar-benar bingung harus bagaimana. Menyapa dengan mengatakan ‘hai apa kabar?’
atau ‘lama gak ketemu, ya.” Tapi tidak-tidak. Setelah kesalahannya beberapa
bulan lalu, tak mungkin ia bisa menampakan wajahnya dengan tenang.
“Kakak apa kabar?”
Lasya memasang telinga, berusaha menangkap
setiap percapakan kedua orang yang entah berdiri dimana.
“Hey, Syana ikut lomba, juga? baik kok,
baik. Syana sendiri gimana?”
Lasya menggigit bibir bawahnya. Dadanya
terasa sesak mendengar suara yang tetap terdengar ramah itu. Semakin membuatnya
merasa bersalah.
“Baik juga, kok.”
“Sendirian? Om sama Tante mana?”
Jangan. Jangan bilang ada aku.
Lasya memejamkan mata dengan dahi yang berkerut. Ia berharap Syana bisa
mendengar isi hatinya. Jantungnya berdegup kencang, Lasya tak tahu lagi
bagaimana cara mengontrolnya.
Dan, rasanya ingin berlari sekencang
mungkin dari tempat ini. Untuk sekali saja menolak perihal coklat sepertinya
tak masalah. Tapi terlambat, karena Syana sudah menutup harapannya.
“Mereka gak ikut, aku sama kak Lasya. Tuh,
di belakang.”
Lasya membelalakan mata. Segala ide
melarikan dirinya lenyap begitu saja. Ia terpaksa mengangkat kepala dengan
segala kekikukan,
“Eh, hai.” ujarnya seolah-olah terlalu berkutat
dengan ponsel dan baru menyadari kehadirannya. Agil tersenyum, membuat sesuatu didalam
dada Lasya seperti ditusuk ribuan jarum.
“Sini kak,” Syana mamanggil dengan raut
menyebalkan. Pasti dia sudah merencanakan ini semua. Ingatkan Lasya untuk
membalasnya nanti.
“I-iya.” Lasya berdiri dengan canggung. Kakinya
terasa sangat berat barang berjalan 3 langkah saja agar sampai ke tempat mereka.
Hatinya terus menolak, tapi kakinya tak henti melangkah. Tak ada yang bisa
diajak kompromi.
Semakin perih mendapati Agil yang seperti
tak ingin melihatnya itu. Ya, Lasya memang pantas mendapatkan ini.
“Dapet nomer urut berapa?” tanyanya kepada
Syana. Bahkan kepalanya lurus hanya kepada gadis itu.
“Nomer urut 1, kak. Habis upacara
pembukaan langsung tampil. Deg-degan banget.”
“Biasain aja. Asal kamu yakin, pasti
semuanya berjalan baik.”
Syana tertawa. “Kak Agil gak berubah, ya.
Tetep aja baik. Pasti banyak, deh, cewek yang naksir kakak disini.”
Ehm. Seketika hawa disekitar Lasya terasa
panas. Ia benar-benar harus menyuruh kedua orang tuanya menyoret nama Syana
dari KK nanti.
Agil tertawa saja menanggapinya. Dengan
sedikit menggaruk tengkuk, yang malahnya membuatnya terlihat .. manis. Rupanya
pengaruh senyum itu untuk Lasya masih sangat besar. Ia merasa bodoh saat ini.
Lasya mengepalkan kedua tangan di sisi celana, merutuki kesalahannya sendiri.
“Tangan kakak kenapa dikepal?”
“Ha?” refleks kedua tangan itu terlepas
dari kepalan. “E-enggak kok.”
Syana terlihat menahan gelak. “Eh, udah di
suruh kumpul. Aku duluan ya, kak.” Ujar Syana setelah mendengar pengumuman dari
ujung lapangan. Ia bahkan pamit kepada Agil. Sebenarnya siapa kakaknya disini?
Suasana menjadi tak seramai tadi setelah
para peserta dikumpulkan. Tinggal tersisa para ibu dipinggir lapangan.
Lasya dan Agil masih berdiri di tempatnya
dengan masing-masing melarikan pandangan. Mereka menjadi seperti dua orang
asing sepeninggal Syana. Selang beberapa menit, terdengar deheman Agil.
Laki-laki itu terlihat sama canggungnya
dengan Lasya.
“Ehm, gue .. kesana dulu, ya.” ujarnya
kepada Lasya.
Entah dorongan darimana, tapi dengan
berani Lasya menghentikannya.
“Tunggu.”
Agil mengernyit.
“Gue .. mau ngomong sama lo.” sambungnya.
Lasya mengingat kata-kata Syana. Dia
memang tak bisa terus-terusan menghindar. Sampai kapanpun, ia tak akan bisa
tenang sebelum menjelaskannya semuanya. Maka dengan keberanian yang tak tahu
darimana asalnya, kini Syana dan Agil duduk berdua di taman belakang sekolah.
Di bawah pohon rindang, hanya mereka
berdua. Sekilas Lasya teringat suatu scene
film yang pernah ia tonton.
“Maaf.” Hanya kata itu yang mampu keluar
setelah hampir 10 menit mereka disini. Agil memasang raut bingung. “Untuk?”
“Semuanya.”
Ya, mungkin ini memang waktu yang tepat untuk Lasya.
“Maaf udah ninggalin, lo. Maaf udah buat lo kecewa atau bahkan benci pernah
kenal gue. Maaf karena mutusin semuanya sepihak, tanpa tau argumen, lo. Waktu itu gue cuma ngerasa ..
cepat atau lambat semuanya memang harus berakhir.”
“Karena bosen?”
Mungkin terdengar tak masuk akal, tapi
memang itu kenyataannya. Rasa bosan maupun jenuh selalu hadir untuk menguji
suatu hubungan. Bukan berarti perasaan Lasya kalah oleh hal manusiawi itu,
namun ia juga memiliki alasannya sendiri untuk segera mengakhiri semuanya.
“Ya, awalnya,” akunya. “Dan..
gue pikir, itu tepat. Gue harus manfaatin perasaan itu untuk akhirin semuanya. Sebelum gue bener-bener
gak bisa ngelepas lo, ataupun sebaliknya. Gue tau, selama apapun hubungan kita,
semua itu cuma akan sia-sia.”
“Sia-sia?” Agil tak mengerti. Lasya
terlalu bertele-tele.
“Ya, sia-sia. Bukan berarti gue nggak
anggep lo berharga. Bahkan kata berharga aja belum cukup buat ngungkapin posisi, lo.
Lo orang baik, bahkan gue sempet berpikir, gak akan nemuin orang kaya lo, lagi.
Lo segalanya. Dan .. Lo berhak marah ke gue, lo boleh maki-maki gue, lo boleh benci gue. Tapi sebelum itu, gue mau lo tahu alasan sebenarnya. “
Lasya menarik nafasnya dalam-dalam. “Agama kita.” Lirihnya. Seolah
ada badai yang tengah menggulung hati Lasya saat mengucapkannya. Matanya
memanas, sesuatu mendesak untuk keluar, tapi sebisa mungkin ia tahan dengan
sesekali menengadah kepala.
“Ya, itu yang sebenarnya. Kita beda agama. Gue cinta Tuhan gue, dan gue tahu, lo bisa ngelakuin apapun buat gue. Itu yang gue takutin kalau hubungan kita terus berlanjut. Gue gak mau salah satu dari kita jalan di jalan yang gak sesuai. Dan kalau ini semua udah terjadi, perpisahan ini, berarti takdir memang setuju untuk ini. Gue harap, lo bisa nerima ini sebagaimana gue.”
Seperti ada beban besar yang baru tercabut
dari diri Lasya. Ia merasa sangat lega bisa mengungkapkan ini.
Kediaman Agil membuat Lasya takut. Ia
takut dengan respon laki-laki itu selanjutnya. Mungkin dia akan marah karena Lasya tak mengatakan ini saja sebelumnya. Namun Syana benar, ketakutan
Lasya memang tak beralasan, karena laki-laki itu kini menatapnya dengan
senyuman tulus yang sangat Lasya rindukan. Entah kapan terakhir kali ia
mendapatkan itu.
"Gue bisa ngerti, kok. Gue baik-baik aja. Gue juga tahu, maksud lo pasti baik."
Lasya tertegun. Apa ini Agil yang sama, yang ia takuti untuk bertemu atau menjelaskan segalanya? kalau iya, betapa waktu Lasya terbuang karena melewatkan berkata jujur dan sembunyi dibalik ketakutan.
"Lo, serius? Lo gak bohong?" tanya Lasya masih tak percaya.
Masih dengan senyumnya, Agil mengangguk. "Bohong kan, elo." katanya seraya menjitak dahi Lasya pelan. Yang biasa mereka lakukan dulu. Seketika suasana terasa mencair, tak setegang sebelumnya. Ini masih seperti mimpi untuk Lasya. Apalagi saat Agil mengatakan, "Kalau emang karena itu, berarti kita masih bisa jadi temen, kan?"
Ya, tentu saja. Itu yang sangat diinginkan Lasya. Meski tak bersama, setidaknya masih ada untuk satu sama lain, sebagai seorang teman. Dengan senyum bahagia yang tak bisa lagi ia tahan, Lasya mendekati Agil. Ia memeluk tubuhnya erat. Melampiaskan segala kelegaannya.
Lasya sangat senang. Sangat-sangat senang.
"Sya?"
Ia masih mendekapnya. Seolah tak ingin jauh-jauh lagi darinya. Dalam pejaman mata, suara Agil terdegar memanggil. Tapi Lasya belum ingin menyudahi itu.
"Lasya?"
Lasya semakin tersenyum. Ia bahkan merindukan suara itu menyebut namanya selembut ini.
"Kak Lasya!!"
Tunggu. Untuk suara yang satu itu..
"Kak L-a-s-y-a"
Lasya membuka mata. Ia berkedip, menunduk, melihat sekeliling, berkedip lagi. Seperti itu berkali-kali, sampai akhirnya sebuah cubitan membawanya pada kenyataan. Lasya meringis sakit, dan mengibas tangan si pencubit yang ternyata adalah adiknya sendiri.
"Jangan lama-lama ngelamunnya. Mana pin-ku?" tannya Syana dari samping.
Ternyata Lasya masih berada di tempat yang sama. Di pinggir lapangan, dengan Agil di hadapannya. Bahkan Lasya bisa melihat raut Agil yang kebingungan.
"Lo mau ngomong apa tadi?" tanya Agil.
"Ha?" Jadi daritadi dia belum memulai apapun? "Ah-iya. Itu.. gue mau ngomong kalau gue gak tahu tempat-tempat disini. Gue cuma mau tanya, dimana toiletnya."
"Tapi gak jadi deh," sambungnya cepat. "Gue bisa cari sendiri, kok." Lasya mengeluarkan pin kecil dari sling bag-nya. Memberikan pada Syana, dan memilih pergi dari sana. Secepat mungkin ia berlari. Lasya benar-benar malu. Sebelum akan tambah mempermalukan dirinya sendiri, ia lebih baik pergi dan menunggu saja di mobil.
Harapan tetaplah menjadi harapan sebelum ada kesungguhan dalam mewujudkannya. Bukan berarti berharap itu salah, namun perlu tahu kapan seharusnya ia berhenti sekedar bermimpi. Selagi ketakutan masih lebih besar menguasai dirimu, maka kecil kemungkinan juga untuk dapat mengubahnya.
Masih banyak waktu. Tidak perlu sekarang, namun harus tetap mencoba, sebelum terlambat dan menelan semua orang yang tak kau inginkan untuk pergi lebih jauh lagi.
"Tadi itu kemajuan. Kita bisa coba lain kali, Sya.." ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Lasya tertegun. Apa ini Agil yang sama, yang ia takuti untuk bertemu atau menjelaskan segalanya? kalau iya, betapa waktu Lasya terbuang karena melewatkan berkata jujur dan sembunyi dibalik ketakutan.
"Lo, serius? Lo gak bohong?" tanya Lasya masih tak percaya.
Masih dengan senyumnya, Agil mengangguk. "Bohong kan, elo." katanya seraya menjitak dahi Lasya pelan. Yang biasa mereka lakukan dulu. Seketika suasana terasa mencair, tak setegang sebelumnya. Ini masih seperti mimpi untuk Lasya. Apalagi saat Agil mengatakan, "Kalau emang karena itu, berarti kita masih bisa jadi temen, kan?"
Ya, tentu saja. Itu yang sangat diinginkan Lasya. Meski tak bersama, setidaknya masih ada untuk satu sama lain, sebagai seorang teman. Dengan senyum bahagia yang tak bisa lagi ia tahan, Lasya mendekati Agil. Ia memeluk tubuhnya erat. Melampiaskan segala kelegaannya.
Lasya sangat senang. Sangat-sangat senang.
"Sya?"
Ia masih mendekapnya. Seolah tak ingin jauh-jauh lagi darinya. Dalam pejaman mata, suara Agil terdegar memanggil. Tapi Lasya belum ingin menyudahi itu.
"Lasya?"
Lasya semakin tersenyum. Ia bahkan merindukan suara itu menyebut namanya selembut ini.
"Kak Lasya!!"
Tunggu. Untuk suara yang satu itu..
"Kak L-a-s-y-a"
Lasya membuka mata. Ia berkedip, menunduk, melihat sekeliling, berkedip lagi. Seperti itu berkali-kali, sampai akhirnya sebuah cubitan membawanya pada kenyataan. Lasya meringis sakit, dan mengibas tangan si pencubit yang ternyata adalah adiknya sendiri.
"Jangan lama-lama ngelamunnya. Mana pin-ku?" tannya Syana dari samping.
Ternyata Lasya masih berada di tempat yang sama. Di pinggir lapangan, dengan Agil di hadapannya. Bahkan Lasya bisa melihat raut Agil yang kebingungan.
"Lo mau ngomong apa tadi?" tanya Agil.
"Ha?" Jadi daritadi dia belum memulai apapun? "Ah-iya. Itu.. gue mau ngomong kalau gue gak tahu tempat-tempat disini. Gue cuma mau tanya, dimana toiletnya."
"Tapi gak jadi deh," sambungnya cepat. "Gue bisa cari sendiri, kok." Lasya mengeluarkan pin kecil dari sling bag-nya. Memberikan pada Syana, dan memilih pergi dari sana. Secepat mungkin ia berlari. Lasya benar-benar malu. Sebelum akan tambah mempermalukan dirinya sendiri, ia lebih baik pergi dan menunggu saja di mobil.
Harapan tetaplah menjadi harapan sebelum ada kesungguhan dalam mewujudkannya. Bukan berarti berharap itu salah, namun perlu tahu kapan seharusnya ia berhenti sekedar bermimpi. Selagi ketakutan masih lebih besar menguasai dirimu, maka kecil kemungkinan juga untuk dapat mengubahnya.
Masih banyak waktu. Tidak perlu sekarang, namun harus tetap mencoba, sebelum terlambat dan menelan semua orang yang tak kau inginkan untuk pergi lebih jauh lagi.
"Tadi itu kemajuan. Kita bisa coba lain kali, Sya.." ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

Komentar
Posting Komentar