See you tomorrow, Bara.
“Bara, tunggu!” perintah seorang gadis yang tengah
berlari tergopoh-gopoh ke arahnya, menghentikan langkah Bara. Gadis itu tak
terlihat terengah setelah berlari, bahkan tak mengeluh kelelahan seperti
gadis-gadis lain.
Seina bersidekap menghadap Bara yang kini di depannya,
wajahnya memancarkan aura kesal. “Kamu itu ya! Kita kan tetangga, tapi
berangkat gak pernah mau bareng lagi sekarang.”
Mendengar omelan Seina, Bara terkekeh. Ia diam menatap
lekat setiap inci wajah Seina. Hal yang baru disadari Bara kalau Seina lebih
terlihat manis dengan bibir manyun seperti saat ini. Senyum Bara mengembang
yang malah membuat Seina balik terkekeh. Ekspresi Bara bukan seperti orang yang
baru diomeli melainkan mendengar lawakan.
“Lama gak ketemu, jadi rada-rada ya sekarang?” Seina
menempelkan punggung tangannya pada dahi tinggi didepannya, guna mengetes
apakah Bara sehat atau memang sakit, sakit jiwa. “Normal sih sininya,” ujarnya
lagi dan mengalihkan pandangan dari Bara.
Bara berjalan lebih dulu meninggalkan Seina yang mulai
menggerutu di belakang. Senyum di wajah Bara belum pudar sedari tadi. Ia merasa
hari ini sangat penting untuk melempar
senyum kepada semua orang, termasuk kepada sosok yang bersamanya kini, sebelum
senyum itu terenggut dari Bara nanti.
Seina berhasil mensejajari langkah Bara. Ia mendengus
kesal, “Hobi banget sih ninggalin aku, suka ya kalau jauh dari aku?”
Pertanyaan itu seakan-akan menyulut habis senyum Bara
yang kini menjadi kecanggungan. Kata-kata Seina mengingatkan Bara akan sesuatu
yang sebenarnya tak pernah di lupakannya. Dengan sedikit gemetar yang berusaha
di samarkan, ia berkata “Ganti topik!”
Seina yang merasakan keanehan itupun tak ambil pusing.
Berangkat bersama Bara seperti saat ini terasa langka beberapa bulan terakhir.
Jadi sebisa mungkin ia membuat perbincangan diantara keduanya berjalan tanpa
salah pembahasan.
“Oke,” ada jeda yang panjang saat Seina memikirkan
topik baru. “Tumben berangkatnya sesudah fajar? Biasanya pas masih gelap udah
melengos aja dari rumah.”
Bara terkekeh untuk kesekian kalinya, bagaimana Seina
bisa tahu itu, dan seperti mengerti diamnya Bara, Seina langsung menjawab.
“Waktu itu aku gak sengaja liat kamu berangkat pas masih gelap. Aku pikir
mungkin ada urusan apa gitu. Terus untuk kedua kalinya aku liat kamu lagi,
akhirnya aku perhatiin rumah kamu terus setiap pagi, dan lagi-lagi kamu
berangkat jam segitu.” Jelasnya panjang lebar.
Bara menelan ludahnya, semoga gadis ini tak mengetahui
apa yang di lakukannya sepagi itu. “Emang lagi ada urusan aja.”
“Urusan? Setiap hari? Setiap pagi?” Tentu saja Seina
tak percaya.
Bara hanya membisu, membuat Seina lagi-lagi harus
mengganti topik kalau seperti ini. “Oh iya, aku pernah cerita tentang surat
yang selalu aku dapetin di lokerku, belum?” tanpa menunggu jawaban, ia
melanjutkan lagi. “Sampe kemarin surat itu masih aku dapetin, tapi yang kemarin
isinya beda dari biasanya. Penulisnya bilang itu surat terakhirnya buat aku,
dia minta aku untuk selalu tersenyum dan jangan anggap perpisahan itu suatu
penderitaan.”
Seina berhenti yang membuat Bara ikut berhenti. “Kamu
ngerti gak apa maksudnya? Emang siapa yang akan terpisah dengan siapa?” tanya
Seina.
Mata Bara melirik ke kanan, bawah, lalu Seina. Seolah
berpikir sesuatu yang jawabannya tak mudah di temukan. “Nanti kamu juga akan
tahu.”
“Maksudnya?” Seina menatap tajam Bara seolah meminta
penjelasan. “Ya, nanti kalau kamu tahu siapa pengirimnya, kamu pasti akan tahu
maksudnya,“ jawab Bara gugup.
Seina menaikan kedua bahunya acuh dengan jawaban Bara.
Anak TK juga tahu ketika Seina mengetahui pengirim itu ia pasti juga akan tahu
maksudnya. Bara masih sama, sama-sama tak masuk akal.
Mereka kembali berjalan menuju sekolah pagi itu dengan
keramaian yang di buat Seina sendiri. Ia tak menyia-nyiakan waktunya bersama
Bara dan membuatnya menceritakan semua hal yang terjadi padanya. Walaupun
mereka satu sekolah, tapi entah mengapa Bara sangat sulit di jumpai, di
rumahpun Bara dan keluarganya jarang terlihat. Dan hari ini, di jalan ini,
ingin rasanya meminta dispen saja hanya untuk sekedar menghabiskan waktu
bercengkrama bersama teman yang sangat di rindukannya ini. Seina benar-benar
merindukan Bara.
***
Benar saja, hari ini sampai Seina pulang sekolah,
lokernya masih tak menerima surat-surat lagi. Siapa pengirimnya masih menjadi
teka-teki yang sulit di pecahkan, ditambah dengan alasan berhentinya surat itu
di kirimkan. Seperti ada satu hal yang kurang yang sudah menjadi rutinitas
Seina di sekolah, yaitu membaca surat-surat itu. Rasanya hampa tak membaca
kata-kata manis yang mampu membuatnya hingga tak berhenti tersenyum, walau tak
tahu sosok dibalik kata-kata itu.
Suara nada dering telpon Seina memecah keheningan
selama berjalan sendiri di koridor. Ia mengangkat telepon yang ternyata
merupakan Ibunya.
“Halo, assalamualaikum.”
Setelah membalas salam, orang di ujung telpon
memberikan informasi kepada Seina yang membuat gadis itu tak bergeming. Matanya
memanas, kakinya seakan melemas. Ia tak sanggup menahan dirinya untuk tak
terjatuh.
Seina menangis dalam kebisuan, ia masih tak percaya
akan hal itu. Tapi perasaannya akan kacau kalau ia hanya terpuruk di sini,
karena itu Seina bangkit dan berlari sekuat tenaganya. Menerobos setiap orang
atau apapun itu yang menghalangi jalannya. Entah kekuatan darimana sehingga
Seina bisa berlari sejauh ini.
Dan berakhirlah Seina di ruang serba putih yang sudah
ramai diisi dengan suara tangisan. Mata Seina tak berkedip, ia menatap lurus
pada objek di hadapannya. Tubuhnya terus berteriak-teriak tak terima, Seina tak
kuat lagi menahan diri. Gadis itu berlari dan memeluk tubuh laki-laki yang
sebagian tubuhnya sudah tertutup kain kafan, tinggal kepalanya.
Ia menangis sejadi-jadinya. Tak pernah terfikirkan hal
ini akan terjadi semengejutkan ini.
“BARAA!!” teriakan Seina menambah keras pula isakan di
sekelilingnya.
Tubuh yang tadi pagi terlihat sehat, senyum yang masih
mengembang, kini terganti menjadi tubuh lunglai dengan warna pucat yang
terlihat jelas. Apa yang terjadi sebenarnya? Seina sungguh membutuhkan
penjelasan.
Ini tak adil untuk Seina. Baru baginya setelah sekian
lama untuk bersama Bara lagi, tapi dengan sekelejap pula kebahagiaannya direnggut.
Apa yang tega membuat dua teman, dua tetangga, bahkan dua insan yang memiliki
hubungan tanpa nama ini berpisah lagi?
Tangan seseorang mengelus puncak kepala Seina. Menarik
Seina untuk memeluknya dan mengeluarkan segala tangisannya. Seina semakin
menjadi-jadi dalam pelukan Ibunya itu. Bibir Seina benar-benar tak bisa
berbicara, ia seperti kehilangan keahliannya itu kini.
Seorang wanita lain mendekat, dan itu Ibu Bara. Ia
menangis dengan menyodorkan sebuah kertas usang dan kertas baru. Seina kenal
kertas itu, ia sering mendapatkannya di dalam loker. Dengan cepat Seina melepas
pelukan dan mengambil dua kertas tersebut. Ia mulai membaca dengan gugup kertas
usangnya.
Jogja,
09 Mei 2018
Dear,
Seina Asyana
Hari
ini mungkin hari terbaik untukmu, karena hari ini hari ulang tahunmu. Tapi, apa?
Temanmu ini jahat, ya? Gak mengucapkan atau memberi sesuatu.
Maaf
Seina, hari baikmu menjadi hari buruk untukku. Hari ini dokter mengabarkan
penyakitku sudah stadium akhir, dan hidupku tinggal 3 bulan saja. Maaf juga
karena ngerahasiaiin penyakit ini.
Mungkin
dari besok aku akan membiasakan diri untuk gak terus-terus sama kamu. Aku takut
nantinya kamu akan sangat sulit melepas aku, begitupun aku. Menjauh dari kamu
juga bukan keputusan yang mudah untuk aku buat.
Aku
sayang kamu Seina.
Seina,
aku ingin melihat senyummu selalu, tapi tanpa harus bertemu denganmu. Aku akan
selalu memberimu surat-surat dan akan merekam senyummu dari kertas-kertas yang
aku kirim. Aku akan merindukanmu Seina.
Your
best,
Bara
Argantara
Sesuatu di dalam dada Seina terasa tersayat. Bagaimana
mungkin ia tak bisa mengenali perwujudan surat dari Bara? Bagaiman ia bisa tak
tahu menau mengenai kondisi orang yang sangat ia sayangi ini? Seina benar-benar
benci kepada dirinya sendiri sekarang.
Ia melihat surat yang tintanya masih baru, membacanya
lagi dengan hati-hati dan berusaha menahan diri untuk tak menangis, walau gagal.
Jogja,
09 Agustus 2018
Dear,
Seina Asyana
Hai,
Seina. Mungkin saat kamu baca surat ini, kita udah beda dunia, hehehe.
Melihat
senyummu pagi ini, aku merasa sesak, Sein. Bukan karena aku tak menyukai senyum
itu, tapi aku takut menjadi penyebab hilangnya senyumanmu.
Kamu
bertanya kenapa aku gak berangkat sebelum fajar seperti biasanya? Ya, untuk
terakhir kalinya aku ingin berangkat bersamamu, tertawa bersama, dan merasakan
bahagia untuk terakhir kalinya, bersamamu.
Dari
kertas ini, mungkin kamu tau sekarang, siapa pengirim surat-surat itu. Aku
senang bisa melihat senyummu setelah membaca ini, dan aku jadi bisa tenang saat
di rumah sakit. Aku berangkat ke sekolah hanya untuk melihatmu, setelahnya
harus kembali ke rumah sakit.
Kamu
special, Sein. Walau sejauh ini kita hanya teman, tapi aku menganggapmu lebih
dari itu. Hanya saja aku tak berani mengungkapkan, lebih tepatnya aku.. takut.
Kamu ngerti kan?
Seperti
yang kutulis pada surat terakhir kemarin. Aku mohon Sein, tetaplah tersenyum,
kita gak sepenuhnya terpisah. Aku masih ada bersamamu. Percayalah..
Banyak
yang ingin aku tuliskan di sini, tapi tanganku terlalu gemetar untuk
menumpahkan semuanya. Intinya satu yang perlu kamu tahu, aku sayang kamu walau
kita beda dunia.
Senyum,
ciss..
Your
love,
Bara
si Batu Bara
Dalam situasi seperti itu Bara masih saja bisa
bercanda. Seina tersenyum walau air mata masih setia mengalir. Sampai kapanpun,
Bara tetaplah Bara. Tersangka utama penyebab senyum Seina yang tak kunjung pudar.
Seina selalu di panggil ‘Tali Seinar’ oleh Bara dulu,
karena tubuh kurusnya dan kulit putih Seina. Begitu juga Seina yang membuat
panggilan ‘Batu Bara’ untuknya. Seina mengatakan, karena Bara keras kepala seperti
batu, tapi padahal arti ‘Batu Bara’ sesungguhnya yaitu sesuatu yang berharga.
Seina merahasiakan artinya sampai sekarang. Sampai ia tak ada kesempatan untuk
mengatakannya lagi.
Betapa besarnya pengorbanan Bara untuk tetap menjaga
senyum Seina, sungguh tak seimbang dengan pemikiran buruk Seina ketika Bara
menjauhinya. Bara selalu memperhatikan Seina selama ini, dan Seina pikir
sungguh tak adil jika Bara harus sendirian di alam sana, sedangkan disini Seina
bersama semua orang. Ini benar-benar tak adil. Seina tak boleh lagi berdiam
diri membiarkan Bara merasa kesepian. Seina harus melakukan sesuatu.
Dengan begitu Seina tersenyum ke arah semua orang yang
memandangnya bingung sekarang.
“Ibu, Ayah, Tante, Om, Bude, Oma, Paman, Seran, Vika,
Adel, Cika.” Senyum Seina semakin mengembang, “Kita semua bersama-sama disini.”
Seina menarik nafas, sebelum akhirnya mengatakan,
“Tapi.. Apa yang kita lakuin? Kita biarin Bara sendirian disana?”
“Apa maksud kamu, Sein?” Ayah Seina memperbaiki letak
kacamatanya untuk lebih fokus mendengar jawaban putrinya itu.
Seina tertawa kecil. “Aku gak akan kasih tahu
sekarang. Tapi, besok. Besok aku janji kalian akan tahu segalanya.” Seina
kembali berdiri di samping jasad Bara. Ia tetap tersenyum sesuai permintaan
Bara.
Jari lentik Seina mengelus-elus wajah tampan sosok
Bara lembut. “Tunggu aku, Bara,” bisiknya
kemudian.

Wow
BalasHapusSeina bunuh diri dong?
BalasHapusbegitulah hehe
HapusItu thiller?
BalasHapusbisa di bilang begitu
Hapus